Minggu, 30 Juni 2013

Jenis-Jenis Model Pembelajaran

Nama : Nur Mega Alamsyah
Nim    : 1104591
Prodi : pendidikan teknik arsitektur

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK JIGSAW
OLEH ; FADHLY. MP.d.I GURU MIN TL JAWA BATURAJA
1.Strategi Pembelajaran Kooperatif
Teori yeng melandasi pembelajaran kooperatif jigsaw adalah teori
konstruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktifisme dalam belajar
adalah suatu pendekatan di mana sisiwa secara individu menemukan dan
mentranseformasikan imformasi yang kompleks, memeriksa imformasi dengan aturan yang dan merivisinya bila perlu (soejadi dalam teti sobri,2006. 15).
Menurut Slavin (2007), pembelajaran kooperatif menggalakan siswa
berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Ini membolehkan poertukaran
ide dan pemeriksaaan ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan falsafah konstruktivisme. Dengan demikian, pendidikan hendaknya mampu
menggkondisikan dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan
membangkitkan potensi siswa , menumbuhkan aktifitas dan daya cipta kreativitas
sehingga akan menjamin terjadinya dinamika di dalam proses pemebelajaran. Dalam teori konstruktivisme ini lebih mengutamakan pada pembelajaran siswa yang
dihadapkan masalah-masalah komplek untuk di cari solusinya, selanjutnya
menemukan bagian-bagian yang lebih sederhana dan keterampiulan yang diharapkan.
Model pembelajaran ini dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme
yang lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky. Berdasarkan penelitian Piaget yang
12
pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna,
1988: 181)
PEMBELAJARAN EFEKTIF
(PEMBELAJARAN KONTEKTUAL DAN BERFIKIR KRITIS)
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Adanya kebijakan peningkatan jaminan kualitas lulusan SLTP membawa
konsekuensi di bidang pendidikan, antara lain perubahan dari model pembelajaran yang
mengajarkan mata-mata pelajaran (subject matter based program) ke model
pembelajaran berbasis kompetensi (competencies based program). Model pembelajaran
berbasis kompetensi bermaksud menuntun proses pembelajaran secara langsung
berorientasi pada kompetensi atau satuan-satuan kemampuan. Pengajaran berbasis
kompetensi menuntut perubahan kemasan kurikulum, dari model lama berbentuk
silabus yang berisi uraian mata pelajaran yang harus diajar ke dalam kemasan yang
berbentuk paket-paket kompetensi. Hal ini membawa konsekuensi bahwa proses
pembelajaran harus berorientasi pada pembentukan seperangkat kompetensi sesuai
dengan tujuan yang diharapkan. Hal demikian menuntut kemampuan guru dalam
merancang model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik bidang kajian dan
karakteristik siswa agar mencapai hasil yang maksimal. Oleh kerana itu peran guru
dalam konteks pembelajaran menuntut perubahan, antara lain : (a) peranan guru
sebagai penyebar informasi semakin kecil, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai
pembimbing, penasehat, dan pendorong, (b) peserta didik adalah individu-individu yang
kompleks, yang berarti bahwa mereka mempunyai perbedaan cara belajar sesuatu yang
berbeda pula, (c) proses belajar mengajar llebih ditekankan pada belajar daripada
mengajar (Laster, 1985).
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan pergeseran
peran guru dalam pembelajaran, yaitu :
a. Cara pandang guru terhadap siswa perlu diubah. Siswa bukan lagi sebagai
obyek pengajaran, tetapi siswa sebagai pelaku aktif dalam proses pembelajaran.
Dalam diri siswa terdapai berbagai potensi yang siap dikembangkan. Oleh
katena itu dalam konteks pembelajaran guru diharapkan mampu memberikan
dorongan kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang
dimilikinya.
b. Guru diharapkan mampu mengajarkan bagaimana siswa bisa berhubungan
dengan masalah yang dihadapi dan mengatasi persoalan yang muncul di
masyarakat. Antara lain dengan cara memberikan tantangan yang berupa
kasus-kasus yang sering terjadi di masyarakat yang terkait bidang studi. Melalui
kegiatan tersebut diharapkan siswa dapat mengembangkan potensi yang
2
dimilikinya, yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai bekal kemandirian
dalam menghadapi berbagai tantangan di masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi
diharapkan bisa ikut ambil bagian dalam mengembangkan potensi
masyarakatnya.
             PENGERTIAN STRATEGI, METODE DAN TEKNIK  BELAJAR MENGAJAR
Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan.
Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.
Metode, adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan (Winamo Surakhmad)

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN IPS TERPADU
Oktober 29, 2008 — Dadan Wahidin

oleh : Ojim suryana
MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
  Pengertian Pembelajaran Terpadu Pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan. Salah satu diantaranya adalah memadukan pokok bahasan atau sub pokok bahasan atau bidang studi, keterangan seperti ini disebut juga dengan kurikulum (DEPDIKBUD, 1990: 3), atau pengajaran lintas bidang studi (Maryanto, 1994: 3).
Secara umum pembelajaran terpadu pada prinsipnya terfokus pada pengembangan perkembangan kemampuat siswa secara optimal, oleh karena itu dibutuhkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran. Melalui pembelajaran terpadu siswa dapat pengalaman langsung dalam proses belajarnya, hal ini dapat menambah daya kemampuan siswa semakin kuat tentang hal-hal yang dipelajarinya.
Pembelajaran terpadu juga suatu model pembelajaran yang dapat dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna pada pembelajaran terpadu artinya, siswa akan memahami konsep-konep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkan dengan konsep yang lain yang sudah mereka pahami.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Tim Pengembang D-2 PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar (1997 : 17) yang mengatakan bahwa “ pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa”.
Pada dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik individu maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik.
 


MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF
Rasional
Dalam pelaksanaan Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, guru dituntut memiliki kompetensi terutama dalam mengelola proses pembelajaran (PBM), karena itu untuk dapat mengantarkan siswa mencapai kompetensi yang diharapkan, guru harus mampu merancang dan mengelola kegiatan pembelajaran yang efektif.
Menurut Direktorat Tenaga Kependidikan (Ditendik), kompetensi guru ada tiga, yaitu : (1) Penguasaan akademik, (2) Pengelolaan pembelajaran, dan (3) Pengembangan profesi.
Sehubungan dengan ketiga kompetensi guru tersebut, kondisi di lapang-an saat ini menunjukkan, bahwa kompetensi guru belum merata dan bervariasi pada semua jenjang dan tingkat sekolah. Akibatnya, tingkat efektivitas dan ketercapaian tujuan proses pembelajaran siswa bervariasi pula.
Dalam proses pembelajaran, guru berperan sebagai fasilitator harus memahami teori-teori belajar, teori-teori pedagogik dan teknik-teknik pembela-jaran.  Sehingga guru mampu merancang dan melaksanakan PBM secara efektif dan efisien, interaktif dan menyenangkan.
Metode dan strategi pembelajaran telah berkembang dengan pesat dan revolusioner untuk menjawab tantangan dan mengantisipasi tuntutan perkem-bangan sosial, ekonomi dan teknologi informasi yang telah meng-global.
MODEL PEMBELAJARAN IPS TERPADU BERBASIS TIK
Pendahuluan
Kegiatan pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan yang menunjukkan interaksi antara siswa dan guru. Interaksi yang dibangun dalam kegiatan ini adalah interaksi yang bersifat dua arah dan menempatkan siswa bukan sebagai objek belajar tetapi sebagai subjek belajar. Kedudukan siswa sebagai subjek belajar berarti siswa merupakan individu yang aktif, bukan yang pasif, yang hanya menerima apa yang diberikan oleh guru. Dalam model pembelajaran ini siswa dituntut untuk banyak melakukan aktivitas sesuai dengan tema yang dikembangkan dalam materi pembelajaran. Siswa dituntut untuk menemukan konsep-konsep penting yang dikembangkan dalam tema materi pembelajaran atau melakukan inquiri. Guru hanya berperan sebagai fasilitator untuk mengantarkan siswa hingga menemukan konsep-konsep tersebut.

Proses inquiri yang dilakukan oleh siswa harus didukung oleh media dan sumber belajar yang digunakan oleh guru. Media dan sumber belajar tidak hanya terpaku pada buku teks yang dijadikan pegangan oleh guru. Apabila hal ini dilakukan informasi materi pembelajaran sangat terbatas. Sumber materi yang terbatas, akan sulit untuk mengembangkan tema. Hal yang ideal adalah media dan sumber belajar harus memberikan kemudahan bagi siswa dalam memperoleh materi yang nantinya dapat dikembangkan dalam tema pembelajaran. Salah satu media dan sumber materi yang bisa dikembangkan adalah melalui teknologi informasi dan komunikasi (TIK). 



Makalah Sejarah Arsitektur Islam Di Jawa

MAKALAH
SEJARAH ARSITEKTUR ISLAM
DI JAWA
Di Susun Oleh :
NUR MEGA ALAMSYAH
 (1104591)


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2012
KATA PENGANTAR
            Puji dan syukur kkami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karna berkat rahmat-Nya lah kami dapat menyelesiakan tugas makalah sejarah arsitektur di jawa ini. Solawat serta salam  selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.
            Tujuan penulis membuat makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Sejarah Arsitektur.
Penulis sadari makalah ini jauh dari sempurna, karna kami masih dalam tahap belajar.  Mohon maaf  yang sebesar-besarnya bila dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kami khususnya, umumnya bagi kita semua.
Amin












I.       PENDAHULUAN

Islam adalah agama yang mengatur hubungan antara manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya. Islam lahir dengan membawa ajarannya yang akan menciptakan kebaikan dan kedamaian. Dengan memperlihatkan ikhtiyar Islam untuk masuk di Jawa secara kultural, bukan dengan paksaan. Dengan berbagai media penyampaian, Islam berhasil menyebar segala penjuru. Ketika Islam masuk ke tanah Jawa, Islam muncul bersama nilai-nilai agama yang dapat diterima oleh Masyarakat.
Nilai-nilai Islam yang melekat pada kebudayaan Jawa memang seolah telah menjadi kesatuan yang sulit dipisahkan dalam berbagai bidang nilai Islam mampu memberikan pengaruhnya.
Dalam makalah ini sedikit banyak akan diuraikan bagaimana sejarah arsitektur dalam Islam seiring penyebaran Islam di tanah Jawa, banyak bangunan-bangunan yang mengandung nilai-nilai keislaman.

II.    PEMBAHASAN
A.    Pra sejarah arsitektur
Dapatlah kita lihat bangunan Indonesia  pada zaman dahulu terbuat dari bahan yang tidak tahan lama. Para ahli arsitektur tidak beruntung karena bahan-bahan hayati ini tidak dapat bertahan lama dalam iklim Indonesia. Bangunan-bangunan kuno yang masih bertahan lama yaitu pada bangunan yang terbuat dari bangunan batu. Bangunan batu tertua di Indonesia  dibangun pada akhir zaman prasejarah, lebih kurang 2.000 tahun yang lalu. Punden Berundak dari batu dan gentang lahan yang berkaitan untuk upacara dibangun pada lereng pegunungan. Punden Berundak ini digunakan pada periode klasik. Di beberapa wilayah nusantara, punden Berundak ini masih digunakan untuk kegiatan keagamaan.
Pada periode klasik Indonesia  dimulai dengan berdirinya candi batu dan batu bata yang menaungi lambang dewa-dewa Hindu dan Budha. Contoh tertua, kerangka tahun awal abad ke-8 dirancang oleh arsitek Indonesia  yang sudah terbiasa bekerja dengan bahan permanen. Menggunakan paduan ragam hias dan lambang pribumi dan asing. Mereka mengungkapkan kembali konsep prasejarah Indonesia  mengenai hubungan antar manusia, dewa, dan alam semesta. Pemandangan alam, terutama pegunungan, merupakan perpaduan dalam pandangan alam semesta mereka.
Terdapat sedikit contoh bentuk arsitektur periode klasik selain candi. Contoh ini meliputi tempat pemandian dan reruntuhan yang mengundang pertanyaan dari gugus ratu Baka yang mungkin digunakan untuk beberapa maksud, sebagai tempat tinggal para bangsawan, tempat upacara umum dan terakhir tempat kegiatan keagamaan penganut Buda dan Hindu. Sisa bangunan dari Jawa Timur menunjukkan bahwa beberapa wilayah kediaman bangsawan abad ke-14 sebagian dibangun dari bata dan ubin. Sisa arsitektur periode klasik terpusat di Jawa, tetapi beberapa tempat di Sumatera, Bali dan Kalimantan menunjukkan data yang patut dipertimbangkan.
Selama periode klasik di Indonesia  lebih kurang 800 tahun lamanya, bidang arsitektur berevolusi sebagai reaksi terhadap perubahan agama, politik, dan kecenderungan umum manusia dalam menginginkan perubahan gaya. Beberapa bangunan periode ini dianggap sebagai bagian dari warisan kebudayaan dunia.
Contoh arsitektur pada bangunan candi zaman klasik dapatlah kita lihat bahwa konsep dasar rancangannya adalah keinginan menciptakan tiruan gunung pada pusat alam semesta, tempat roh para dewa dapat dibujuk untuk menjelma menjadi patung atau lingga yang ditempatkan dalam ruangan yang menyerupai gua.
Arsitektur Indonesia  klasik paling awal terdiri atas tempat suci Hindu, dibangun di gunung api Jawa Tengah secara raga dan perlambang, bangunan ini bersandar pada kepercayaan bahwa gunung merupakan tempat kekuatan adi kodrati. Setelah “elit” yang berkuasa mulai membangun dengan batu, tempat bangunan mulai menyebar ke daratan rendah perluasan ini mungkin berasal dari paduan semangat keinginan membuat tempat keagamaan lebih mudah dicapai Masyarakat umum dan pengakuan untuk “elite” yang berkuasa bahwa hubungan dengan kekuatan dewa secara nyata menambah kekuasaan duniawi mereka.
Dalam bangunan candi terdahulu ada pula yang menggunakan kayu sebagai penyangga luar, diantaranya dapatlah kita lihat pada arsitektur kayu Indonesia  dari salah satu relief Borobudur (serambi pertama, sisi timur, sayap utara, lubang pengatur suhu diatas). Bangunan-bangunan ini memakai struktur penahan beban bagian luar dengan penyangga berbentuk seperti tiang berwujud manusia (canyatid) dalam bentuk satwa liar. Rancangan ini mirip dengan bangunan di India selatan (abad ke 4-9), tetapi saat arsitek Jawa membangun dengan batu, teknik para arsitek setempat mulai menyimpang dari model India. Sementara orang Jawa menggunakan bangunan pendukung dari luar, mereka mengabaikan penggunaan sosok satwa sebagai penyangga dan menggantikannya dengan tiang, tahap ini tampak pada relief-relief. Saat orang Jawa menggunakan batu sebagai bahan bangunan, bangunan penahan berat bagian luar menjadi berlebih, tiang dan penyangga diubah menjadi unsur hiasan dinding luar.
Bentuk bangunan arsitektur pada zaman prasejarah diantaranya yaitu bangunan-bangunan candi ; candi Borobudur, candi Rara Jonggrang, candi Merak, candi Sewu, candi Palosan, candi Kidal dan sebagainya. Candi-candi tersebut yang terbuat dari batu-batuan pada zaman klasik terdahulu.





B.     Sejarah Arsitektur dalam Islam
1.      Arsitektur masjid
Dalam sejarah peradaban Islam, masjid dianggap sebagai cikal bakal arsitektur dalam Islam, yaitu dengan dibangunnya masjid Quba oleh Rasulullah SAW sebagai masjid yang pertama.
Awal mula bangunan masjid Quba sangatlah sederhana sekali, dengan lapangan terbuka sebagai intinya dan menempatkan mimbar pada sisi dinding arah kiblat, serta di tengah-tengah lapangan terdapat sumber air untuk tujuan bersuci. Masjid Quba ini merupakan karya spontan dari Masyarakat muslim di Madinah pada waktu itu.
Bangunan masjid Quba ini disebut oleh para ahli sebagai masjid Arab asli. Namun kiranya arti lebih luas adalah bahwa masjid Quba telah menampilkan makna dan fungsi minimal yang harus terpenuhi dalam sebuah bangunan masjid, yakni adanya tempat yang lapang untuk tempat berkumpul untuk melaksanakan ibadah. Sementara itu bangunan masjid yang lain tumbuh di berbagai wilayah Islam sejalan dengan perkembangan wilayah Islam. Bangunan masjid-masjid itupun mengalami penambahan menara, makam di sekitar masjid, maskura, hiasan kaligrafi, interior yang indah yang memperlihatkan perbedaan tampilan fisiknya. Hal tersebut  seperti terlihat pada kubah masjid Jami’ di Buara dengan model setengah bola. Menara spiral di Samim, Minaret masjid sultan Kaitbey, interior masjid Ibnu Thoulun, termasuk bentuk atap bersirap pada bangunan masjid di Jawa.
Bentuk bangunan masjid dengan model atap tingkat tiga diterjemahkan sebagai lambang keislaman seseorang yang ditopang oleh 3 aspek, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Adapun Norcholis masjid menafsirkannya sebagai lambang 3 jenjang perkembangan penghayatan keagamaan manusia, yaitu tingkat dasar permulaan, tingkat menengah, dan tingkat akhir yang maju dan tinggi yang sejajar dengan jenjang vertikal Islam, iman, dan ihsan.
Selain itu arsitektur masjid di Jawa biasanya disekitarnya juga terdapat bangunan makam. Biasanya makam yang terdapat di sekitar masjid adalah makam para tokoh Islam yang hidup di sekitar masjid tersebut. Di Jawa makam merupakan salah satu tempat yang dianggap sakral, bahkan sebagian cenderung dikeramatkan.
2.      Arsitektur ruang makam-masjid
Struktur ruang makam-masjid Kudus tidak memiliki hierarki yang sederhana. Kompleks ini dibangun dengan dinding keliling bata merah, seperti juga di Demak. Rancangan profil ini mirip dengan dinding kompleks candi-candi di Jawa Timur, candi penataran dan candi tikus. Setiap pintu masuk yang melalui dinding-dinding tersebut hampir selalu ditandai oleh bangunan gentar atau paduraksa. Tata ruang yang  berlapis-lapis dan membentuk segi empat oleh dinding batu bata menunjukkan prosesi yang jelas memperlihatkan terhormatnya derajat wilayah makam. Di Kudus terdapat tidak kurang dari tujuh lapis gerbang dan halaman berdinding. Di Demak, dapat dijumpai pula tatanan ruang berlapis-lapis, namun tidak serumit makam sunan Kudus. Yang menarik di Demak adalah kejelasan struktur ruang yang dibentuk oleh tembok keliling segi empat dengan empat gerbang penjuru angin struktur yang jelas ini menyebabkan masjid nampak lebih menonjol monumentalisasinya. Sarean dikompleks masjid ini nampak sebagai struktur pendukung yang memiliki jalur prosesi sendiri yang membuat tata ruang berlapis-lapis adalah sarean utama yang dibangun dengan struktur cungkup. Struktur ini diyakini memberi perlindungan bagi makam sebagaimana atap melindungi tempat tidur. Orang Jawa melihat kuburan sebagai tempat yang disucikan dari kegiatan harian.
Lapisan ruang-ruang yang perlu dilalui dari prosesi ziarah ini dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kemiripan dengan prosesi menuju tempat tinggal raja yang bersangkutan. Secara tata ruang sarean dan dalem alias kelengahan sultan selintas tidak berbeda. Dasar dari struktur ruang yang mengembangkan pada makam-makam sunan Kudus, ratu Kalinyamat, hingga panembahan senapati menunjukkan gejala yang sama yaitu sinkretisme antara konsep candi Hindu, penghormatan leluhur asli jawa dengan fasilitas dan ritual Islam. Elemen-elemen pribumi nampak pada rancang bangun makam berundak yang mengingatkan pada punden Berundak. Elemen-elemen Hindu diungkapkan pada gubahan atap masjid maupun struktur ruang berdinding dengan paduraksa dan bentar. Semua terpadu untuk memberi tempat dimana kesucian badan disyaratkan dalam mengikuti proses ritual didalamnya.
Namun dalam Islam sebenarnya terdapat tradisi penguburan jenazah yang didasarkan pada hadits Nabi seperti :
1.      Kuburan lebih baik ditinggikan dari tanah sekitar agar mudah diketahui (HR. Baihaqi)
2.      Membuat tanda kubur dengan batu atau benda lain pada bagian kepala (HR. Abu Daud)
3.      Dilarang menembok kubur (HR. At Tarmidzi dan Muslim)
4.      Dilarang membuat tulisan di atas kubur (HR. At Tarmidzi dan Muslim)
5.      Dilarang membuat bangunan di atas kubur (HR. Ahmad dan Muslim)
6.      Dilarang menjadikan kuburan sebagai masjid (HR. Bukhari Muslim)




3.      Arsitektur bangunan rumah
Dari asal-usulnya para ahli sejarah masih belum mempunyai kesatuan pendapat tentang hal ini. Sebagian riwayat telah menceritakan betapa sukarnya menentukan wujud atau bentuk rumah orang jawa pada mulanya. Ada yang mengatakan bahwa hal itu diceritakan dari mulut ke mulut (lesan), dari kakek ke cucu, cicit dst. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa rumah orang Jawa pada mulanya dibuat dari bahan batu. Dari pendapat yang bermacam-macam itu dapat diambil kesimpulan, bahwa hal-hal tersebut masih gelap dan belum berhasil dipecahkan sampai sekarang.
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa beberapa orang yang ahli telah membuktikan bahwa teknik penyusunan rumah jawa seperti teknik penyusunan batu-batu candi yang cukup banyak kita jumpai. Tetapi bukan rumah orang jawa yang meniru bentuk candi, melainkan bentuk candilah yang meniru rumah orang jawa. Karena candi yang kita saksikan sekarang ini baru berdiri pada abad ke-8 sedangkan sebelum agama Hindu dan Budha datang ke sini, nenek moyang kita pasti telah mempunyai tempat tinggal yang cukup permanen untuk melindungi diri dan keluarganya.
Salah satu contoh tata ruang rumah tradisional kudus yang mempunyai keistimewaan dengan adanya ukuran yang menghiasi hampir di setiap bagian bangunan ruangan di ruang ukir kudus terbagi menjadi 3 yaitu :
1.      Jago satru à bagian ruang depan untuk menerima tamu
2.      Godongan à untuk menyimpan harta kekayaan
3.      Pawon à ruangan untuk tempat kegiatan sehari-hari bagi keluarga


4.      Arsitektur dalam tata ruang kota
Arsitektur Islam tetap menaruh kepercayaan pada bahan-bahan bangunan sederhana dan mempergunakan kekuatan-kekuatan elemental alam seperti cahaya dan angin untuk sumber-sumber energinya. Ia membawa alam ke dalam kota dengan mewujudkan kembali kelembutan, keselarasan dan ketenteraman alam di dalam halaman-halaman luas masjid dan rumah.
Sebagai sebuah karya seni, maka kemampuan para arsitek muslim Jawa dalam mengakomodasi dua unsur kebudayaan tidak hanya dalam bentuk masjid dan rumah, tetapi telah pula merambah pada lingkup yang lebih luas, yakni pada tata ruang sebuah wilayah atau penataan kota. Sejak Islam memiliki sebuah wilayah, maka sebenarnya sejak itu umat Islam telah mulai memiliki kemapuan dalam menata wilayahnya. Sama halnya ketika umat Islam memiliki wilayah di jawa ini, maka mereka pun mulai menata kota dengan perangkat bangunan yang menjadi kepentingannya.
Sebagai sebuah kerajaan Islam jawa, Mataram yang merupakan kelanjutan dari penguasa kerajaan sebelumnya (Hindu Majapahit) memiliki tata bangunan kota yang sangat dipengaruhi oleh nilai lokal yang telah ada, dan tata nilai baru yang dibawa oleh Islam.
Oleh karenanya tata ruang kota di Jawa pasca kerajaan Hindu jawa menggunakan konsep tata ruang yang berlandaskan pada  filosofi jawa yang muatan isinya memakai konsep Islam. Hal ini terlihat dengan penggunaan konsep mancapat dalam tata ruang desa-desa di jawa, tetapi unsur-unsur macapatnya dengan nilai ajaran Islam yaitu dengan menempatkan keraton, masjid, pasar dan penjara dalam satu komunitas bangunan yang berpusat pada alun-alun. Penataan kota semacam ini sampai sekarang masih terus dapat disaksikan, dimana hampir setiap kota di Jawa yang dibangun pada masa kerajaan Islam, pusat pemerintahannya senantiasa berada dipusat kota yang terdapat alun-alun didepannya, masjid di sebelah baratnya, penjara dan pasar disekitarnya.
Kecuali itu ciri khas jalan-jalan yang membelah dari pusat alun-alun dan perkampungan yang dihuni oleh komunitas orang santri yang disebut kauman telah menjadi ciri khas tata kota di jawa. Bentuk arsitektur tata kota yang lain dapat kita lihat pada bangunan tamansari dan hiasan-hiasan pada keraton seperti pada bangunan keraton yogya yang memiliki hiasan kaligrafi atau huruf-huruf Arab, gapura, masjid dan benteng.

III. PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat semoga bermanfaat bagi pembacaan umumnya dan bagi penulis khususnya, saya sadar dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, maka dari itu kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun, sekian dari kami kurang lebihnya mohon maaf, dan saya ucapkan banyak terima kasih atas perhatiannya


Sejarah Arsitektur Indonesia

Sejarah Arsitektur Indonesia

Asitektur Indonesia terdiri dari klasik-tradisional, vernakular dan bangunan baru kontemporer. Arsitektur klasik-tradisional adalah bangunan yang dibangun oleh zaman kuno. Arsitektur vernakular juga bentuk lain dari arsitektur tradisional, terutama bangunan rumah hunian, dengan beberapa penyesuaian membangun oleh beberapa generasi ke generasi. Arsitektur Baru atau kontemporer lebih banyak menggunakan materi dan teknik konstruksi baru dan menerima pengaruh dari masa kolonial Belanda ke era pasca kemerdekaan. Pengenalan semen dan bahan-bahan modern lainnya dan pembangunan dengan pertumbuhan yang cepat telah menghasilkan hasil yang beragam. 

Arsitektur Klasik Indonesia 
Ciri khas arsitektur klasik Indonesia dapat dilihat paada bangunan candi dengan struktur menaranya. Candi Buddha dan Hindu dibangun dari batu, yang dibangun di atas tanah dengan cirikhas piramida dan dihiasi dengan relief. Secara simbolis, bangunan adalah sebagai representasi dari Gunung Meru yang legendaris, yang dalam mitologi Hindu-Buddha diidentifikasi sebagai kediaman para dewa. Candi Buddha Borobudur yang terkenal dari abad ke-9 dan Candi Prambanan bagi umat Hindu di Jawa Tengah juga dipenuhi dengan gagasan makro kosmos yang direpresentasiken dengan sebuah gunung. Di Asia Timur, walau dipengaruhi oleh budaya India, namun arsitektur Indonesia (nusantara) lebih mengedapankan elemen-elemen masyarakat lokal, dan lebih tepatnya dengan budaya petani. 

Budaya Hindu paling tidak 10 abad telah mempengaruhi kebudayaan Indonesia sebelum pengaruh Islam datang. Peninggalan arsitektur klasik (Hindu-Buddha) di Indonesia sangat terbatas untuk beberapa puluhan candi kecuali Pulau Bali yang masih banyak karena faktor agama penduduk setempat.

Arsitektur vernakular di Indonesia 
Arsitektur tradisional dan vernakular di Indonesia berasal dari dua sumber. Pertama adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui Jawa. Yang kedua adalah arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti atap ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah di pedalaman di Indonesia masih banyak yang menggunakan bambu, namun dengan seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan bambu ini sedikit demi sedikit diganti dengan bangunan dinding bata.

Arsitektur tradisional di Indonesia 

 Bangunan vernakular yang tertua di Indonesia saat ini tidak lebih dari sekitar 150 tahun usianya. Namun dari relief di dinding abad ke-9 di candi Borobudur di Jawa Tengah mengungkapkan bahwa ada hubungan erat dengan arsitektur rumah vernakular kontemporer yang ada saat ini. Arsitektur vernakular Indonesia juga mirip dengan yang dapat ditemukan di seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara. Karakteristik utamanya adalah dengan digunakannya lantai yang ditinggikan (kecuali di Jawa), atap dengan kemiringan tinggi menyerupai pelana dan penggunaan material dari kayu dan bahan organik tahan lama lainnya. 

Pengaruh Islam dalam Arsitektur 
Budaya Islam di Indonesia dimulai pada tahun 13 Masehi ketika di Sumatra bagian utara muncul kerajaan Islam Pasai di 1292. Dua setengah abad kemudian bersama-sama juga dengan orang-orang Eropa, Islam datang ke Jawa. Islam tidak menyebar ke kawasan Indonesia oleh kekuatan politik seperti di India atau Turki namun lebih melalui penyebaran budaya. Budaya Islam pada arsitektur Indonesia dapat dijumpai di masjid-masjid, istana, dan bangunan makam. 

Menurunnya kekuatan kerajaan Hindu Majapahit di Jawa menandai bergantinya periode sejarah di Jawa. Kebudayaan Majapahit tersebut meninggalkan kebesarannya dengan dengan serangkaian candi-candi monumental sampai abad keempat belas. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa "Zaman Klasik" di Jawa ini kemudian diganti dengan zaman "biadab" dan juga bukanlah awal dari "Abad Kegelapan". Selanjutnya kerajaan-kerajaan Islam melanjutkan budaya lama Majapahit yang mereka adopsi secara jenius. "New Era" selanjutnya menghasilkan ikon penting seperti masjid-masjid di Demak, Kudus dan Banten pada abad keenam belas. Juga dengan situs makam Imogiri dan istana-istana Yogyakarta dan Surakarta pada abad kedelapan belas. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak memperkenalkan bentuk-bentuk fisik baru dan ajaran-ajarannyapun diajarkan lebih dalam cara-cara mistis oleh para sufi, atau dengan kata lain melalui sinkretisme, sayangnya hal inilah yang mempengaruhi ‘gagal’nya Islam sebagai sebuah sistem baru yang benar-benar tidak menghapuskan warisan Hindu ( lihat Prijotomo, 1988).

Masjid Kudus dengan Gaya Hindu untuk Drum Tower dan Gerbang 

 Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia dari abad ke-12 dan seterusnya dengan memperkenalkan serangkaian penting pengaruh arsitektur. Namun, perubahan dari gaya lama ke baru yang lebih bersifat ideologis baru kemudian teknologi. Kedatangan Islam tidak mengarah pada pengenalan bangunan yang sama sekali baru, melainkan melihat dan menyesuaikan bentuk-bentuk arsitektur yang ada, yang diciptakan kembali atau ditafsirkan kembali sesuai persyaratan dalam Islam. Menara Kudus, di Jawa Tengah, adalah contoh dalam kasus ini. Bangunan ini sangat mirip dengan candi dari abad ke-14 di era kerajaan Majapahit, menara ini diadaptasi untuk kepentingan yang lebih baru dibangun masjid setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Demikian pula, masjid-masjid di awal perkembangan Islam di Indonesia murni terinspirasi dari tradisi bangunan local yang ada di Jawa, dan tempat lain di Nusantara, dengan empat kolom utama yang mendukung atap tengahnya. Dalam kedua budaya ini empat kolom utama atau Saka Guru mempunyai makna simbolis. 

Gaya Belanda dan Hindia Belanda 
Pengaruh Barat di mulai jauh sebelum tahun 1509 ketika Marco Polo dari Venesia melintasi Nusantara di 1292 untuk kegiatan perdagangan. Sejak itu orang-orang Eropa berusaha untuk merebut kendali atas perdagangan rempah-rempah yang sangat menguntungkan. Portugis dan Spanyol, dan kemudian Belanda, memperkenalkan arsitektur mereka sendiri dengan cara awal tetap menggunakan berbagai elemen arsitektur Eropa, namun kemudian dapat beradaptasi dengan tradisi arsitektur lokal. Namun proses ini bukanlah sekadar satu arah: Belanda kemudian mengadopsi unsur-unsur arsitektur pribumi untuk menciptakan bentuk yang unik yang dikenal sebagai arsitektur kolonial Hindia Belanda. Belanda juga sadar dengan mengadopsi arsitektur dan budaya setempat kedalam arsitektur tropis baru mereka dengan menerapkan bentuk-bentuk tradisional ke dalam cara-cara modern termasuk bahan bangunan dan teknik konstruksi. 

Gereja Blenduk dan Lawang Sewu bangunan, contoh dari arsitektur Belanda 

Bangunan kolonial di Indonesia, terutama periode Belanda yang sangat panjang 1602 - 1945 ini sangat menarik untuk menjelajahi bagaimana silang budaya antara barat dan timur dalam bentuk bangunan, dan juga bagaimana Belanda mengembangkan aklimatisasi bangunan di daerah tropis. Menurut Sumalyo (1993), arsitektur kolonial Belanda di Indonesia adalah fenomena budaya unik yang pernah ditemukan di tempat lain maupun di tanah air mereka sendiri. Bangunan-bangunan tesebut adalah hasil dari budaya campuran kolonial dan budaya di Indonesia. 

Perbedaan konsep Barat dan Indonesia ke dalam arsitektur adalah terletak pada korelasi antara bangunan dan manusianya. Arsitektur Barat adalah suatu totalitas konstruksi, sementara itu di Timur lebih bersifat subjektif, yang lebih memilih penampilan luar terutama façade depan. Kondisi alam antara sub-tropis Belanda dan tropis basah Indonesia juga merupakan pertimbangan utama bangunan Belanda di Indonesia. 

Sebenarnya, Belanda tidak langsung menemukan bentuk yang tepat untuk bangunan mereka di awal perkembangannya di Indonesia. Selama awal kolonisasi Eropa awal abad 18, jenis bangunan empat musim secara langsung dicangkokkan Belanda ke iklim tropis Indonesia. Fasade datar tanpa beranda, jendela besar, atap dengan ventilasi kecil yang biasa terlihat di bagian tertua kota bertembok Belanda, juga digunakan seperti di Batavia lama (Widodo, J. dan YC. Wong 2002). 

Menurut Sumintardja, (1978) VOC telah memilih Pulau Jawa sebagai pusat kegiatan perdagangan mereka dan bangunan pertama dibangun di Batavia sebagai benteng Batavia. Di dalam benteng, dibangun rumah untuk koloni, memiliki bentuk yang sederhana seperti rumah asli di awal tapi belakangan diganti dengan rumah gaya Barat (untuk kepentingan politis). Dinding batu bata rumah, mereka mengimpor bahan langsung dari Belanda dan juga dengan atap genteng dan interior furniture. Rumah-rumah yang menjadi tradisi pertama rumah-rumah tanpa halaman, dengan bentukan memanjang seperti di Belanda sendiri. Rumah-rumah ini ada dua lantai, sempit di façade tapi lebar dalam. Rumah tipe ini selanjutnya banyak digunakan oleh orang-orang cina setelah orang Belanda beralih dengan rumah-rumah besar dengan halaman luas. Rumah-rumah ini disebut sebagai bentuk landhuizen atau rumah tanpa beranda dalam periode awal, setelah mendapat aklimatisasi dengan iklim setempat, rumah-rumah ini dilengkapi dengan beranda depan yang besar seperti di aula pendapa pada bangunan vernakular Jawa. 

Pada awalnya, rumah-rumah ini dibangun dengan dua lantai, setelah mengalami gempa dan juga untuk tujuan efisiensi, kemudian rumah-rumah ini dibangun hanya dalam satu lantai saja. Tetapi setelah harga tanah menjadi meningkat, rumah-rumah itu kembali dibangun dengan dua lantai lagi. 

Penentuan desain arsitektur menjadi lebih formal dan ditingkatkan setelah pembentukan profesi Arsitek pertama di bawah Dinas Pekerjaan Umum (BOW) pada 1814-1930. Sekitar tahun 1920-an 1930-an, perdebatan tentang masalah identitas Indonesia dan karakter tropis sangat intensif, tidak hanya di kalangan akademis tetapi juga dalam praktek. Beberapa arsitek Belanda, seperti Thomas Karsten, Maclaine Pont, Thomas Nix, CP Wolf Schoemaker, dan banyak lainnya, terlibat dalam wacana sangat produktif baik dalam akademik dan praksis. Bagian yang paling menarik dalam perkembangan Arsitektur modern di Indonesia adalah periode sekitar 1930-an, ketika beberapa arsitek Belanda dan akademisi mengembangkan sebuah wacana baru yang dikenal sebagai "Indisch-Tropisch" yaitu gaya arsitektur dan urbanisme di Indonesia yang dipengaruhi Belanda 

Tipologi dari arsitektur kolonial Belanda; hampir bangunan besar luar koridor yang memiliki fungsi ganda sebagai ruang perantara dan penyangga dari sinar matahari langsung dan lebih besar atap dengan kemiringan yang lebih tinggi dan kadang-kadang dibangun oleh dua lapis dengan ruang yang digunakan untuk ventilasi panas udara. 

Arsitek-arsitek Belanda mempunyai pendekatan yang baik berkaitan dengan alam di mana bangunan ditempatkan. Kesadaran mereka dapat dilihat dari unsur konstruksi orang yang sangat sadar dengan alam. Dalam Sumalyo (1993,): Karsten pada tahun 1936 dilaporkan dalam artikel: "Semarangse kantoorgebouwen" atau Dua Office Building di Semarang Jawa Tengah: 

1. Pada semua lantai pertama dan kedua, ditempatkan pintu, jendela, dan ventilasi yang lebar diantara dia rentang dua kolom. Ruangan untuk tiap lantai sangat tinggi; 5, 25 m di lantai pertama dan 5 m untuk lantai dua. Ruangan yang lebih tinggi, jendela dan ventilasi menjadi sistem yang baik untuk memungkinkan sirkulasi udara di atap, ada lubang ventilasi di dinding atas (di atas jendela) 

2. Disamping lebar ruang yang lebih tinggi, koridor terbuka di sisi Barat dan Timur meliputi ruang utama dari sinar matahari langsung. 

Ketika awal urbanisasi terjadi di Batavia (Jakarta), ada begitu banyak orang membangun vila mewah di sekitar kota. Gaya arsitekturnya yang klasik tapi beradaptasi dengan alam ditandai dengan banyak ventilasi, jendela dan koridor terbuka banyak dipakai sebagai pelindung dari sinar matahari langsung. Di Bandung, Villa Isolla adalah salah satu contoh arsitektur yang baik ini (oleh Schoemaker1933) 

Villa Isolla, salah satu karya arsitektur Belanda di Indonesia 

Arsitektur Kontemporer Indonesia 
Setelah kemerdekaan pada tahun 1945, bangunan modern mengambil alih Indonesia. Kondisi ini berlanjut ke tahun 1970-an dan 1980-an ketika pertumbuhan eknomi yang cepat Indonesia yang mengarah pada program-program pembangunan besar-besaran di setiap sector mulai dari skema rumah murah, pabrik-pabrik, bandara, pusat perbelanjaan dan gedung pencakar langit. Banyak proyek bergengsi yang dirancang oleh arsitek asing yang jarang diterapkan diri mereka untuk merancang secara khusus untuk konteks Indonesia. Seperti halnya kota-kota besar di dunia, terutama di Asia, sebagai korban dari globalisasi terlepas dari sejarah lokal, iklim dan orientasi budaya.

 
Rumah-rumah kontemporer di Indonesia 

Arsitektur modern Indonesia umumnya mulai di sekitar tahun 50an dengan dominasi bentuk atap. Model bangunan era kolonial juga diperluas dengan teknik dan peralatan baru seperti konstruksi beton, AC, dan perangkat lift. Namun, sepuluh tahun setelah kemerdekaan, kondisi ekonomi di Indonesia belum cukup kuat. Sebagai akibat, bangunan yang kurang berkualitas terpaksa lahir. Semua itu sebagai upaya untuk menemukan arsitektur Indonesia modern, seperti halnya penggunaan bentuk atap joglo untuk bangunan modern. 

Arsitektur perumahan berkembang luas pada tahun 1980-an ketika industri perumahan booming. Rumah pribadi dengan arsitektur yang unik banyak lahir tapi tidak dengan perumahan massal. Istilah rumah rakyat, rumah berkembang, prototipe rumah, rumah murah, rumah sederhana, dan rumah utama dikenal baik bagi masyarakat. Jenis ini dibangun dengan ide ruang minimal, rasional konstruksi dan non konvensional (Sumintardja, 1978) 

Permasalahan untuk Arsitektur Indonesia 
Gerakan-gerakan baru dalam arsitektur seperti Modernisme, Dekonstruksi, Postmodern, dll tampaknya juga diikuti di Indonesia terutama di Jawa. Namun, dalam kenyataannya, mereka menyerap dalam bentuk luar saja, bukan ide-ide dan proses berpikir itu sendiri. Jangan heran jika kemudian muncul pandangan yang dangkal; "Kotak-kotak adalah Modern, Kotak berjenjang adalah pasca Modern" (Atmadi, 1997). Arsitektur hanya hanya dilihat sebagai objek bukan sebagai lingkungan hidup. 

Sumalyo, (1993) menyatakan bahwa pandangan umum arsitektur Barat: 'Purism', di mana untuk menunjuk Bentuk dan Fungsi, adalah berlawanan dengan konsep-konsep tradisi yang memiliki konteks dengan alam. Kartadiwirya, dalam Budihardjo (1989,) berpendapat, mengapa prinsip tropis 'nusantara' arsitektur jarang dipraktekkan di Indonesia adalah karena pemikiran dari proses perencanaan tidak pernah menjadi pemikiran. Mereka hanya hanya mengajarkan tentang perencanaan konvensional selama 35 tahun tanpa perubahan berarti sampai beberapa hari. Sayangnya hamper semua bahan pengajaran dalam arsitektur berasal dari cara berpikir Barat yang menurut Frick (1997) telah menghasilkan kelemahan arsitektur Indonesia. Dia juga menjelaskan bahwa Bahan menggunakan bangunan modern hanya karena alasan produksi massal yang lebih 'Barat' dan jauh dari tradisi setempat. Kondisi ini telah memicu penggunaan bahan yang tidak biasa dan tanpa kondisi lokal. Lalu bagaimanakah seharusnya arsitektur Indonesia?